Pendiri Kajang merupakan "orang terkaya Selangor" pada awal abad ke 20
Pada tahun 1883 beliau menjadi petugas kehutanan Forest Ranger di Ulu Langat. Beliau diperingati sebagai tuan perkebunan yang berhasil menimbun kekayaan dari getah rubber.
Perkebunan getah yang luas di Balakong Cheras Kajang mengikut cerita orang tua-tua kampung di Kajang dimiliki Raja Allang.
Perkebunan getah itu dijuluki Raja Allang Estate.
Beliau memperoleh tanah yang luas di Kuala Langat , anugerah Sultan Abdul Samad ,
Sultan Selangor.
Di samping itu mewarisi harta dua saudara kandungnya,
Raja Sulung dan
Raja Hidayat yang meninggal dunia lebih dahulu.
Sebagai orang kaya dan pedagang getah,
Raja Allang memiliki 20 buah kedai yang terbuat dari batu bata di Pekan Kajang pada tahun 1912 mengikut sensus yang dilakukan untuk Pekan itu.
Sejumlah 40 kedai batu bertingkat dua telah mulai dibina pada tahun 1896 .
Kedai -kedai tersebut terdapat di Jln Tukang terus ke Jln Mandailing,
Jln Besar dan
Jln Sulaiman.
Etnis Mandailing Marga Nasution yang bernama
Raja Allang ini bukan saja hartawan yang dermawan tetapi juga aktivis sosial di Kajang pada awal abad 20 silam.
Di samping aktivis dan pemuka-pemuka masyarakat yang lain pada waktu itu seperti
Tauke Ng Bow Thai,
Tauke Low Ti Kok,
Mr.V.Sabapathy, Mr.Arumpalam dan
Mr.Gan Boon Teik,
Raja Allang turut menuntut Kolonial Inggeris mendirikan sekolah berbahasa Inggeris untuk anak-anak sekalian warga Kajang tanpa mengira etnisnya.
Sebagai hasil tuntutan mereka didirikan Kajang Government English School untuk warga Kajang yang ingin anak mereka "masuk sekolah Orang Puteh". Sekolah itu diresmikan April 1 1909.
Usaha Raja Allang dan teman-teman aktivisnya diteruskan oleh anaknya Raja Muhammad. Beliau bersama yang lain seperti Low Ti Kok, Haji Jalil
(etnis Mandailing dan Penghulu di Ulu Langat) , Ng Seow Buck dan RCM Kindersley berusaha pula mencari situs/tapak baru bagi Kajang Government English School yang telah bertambah usang dan padat dengan para murid menjelang tahun 1926 .
Situs yang dicari-cari itu diketemukan di Jalan Semenyih dan didirikan di situ Kajang High School yang menggantikan Kajang Government English School yang berlokasi berhampiran Police Station (Balai Polis) dan District Office Ulu Langat (Pejabat Daerah) yang telah diruntuhkan untuk dibina Gedung Sate .
Apabila House System diperkenalkan di Kajang High School, Raja Muhammad diberi penghormatan menjadi Patron Raja Muhammad House... murid yang Nombor Masuk Sekolah berakhir 7 & 8 dikelompokkan kepada Raja Muhammad House.
Penghormatan yang demikian itu diberikan kepada beliau sebagai alumnus ( beliau mantan murid Kajang Government English School) dan sebagai salah seorang Pendiri Pelopor Kajang High School/kini Sekolah Menengah Tinggi Kajang.
Sebagai aktivis dan orang bisnis Raja Allang berhubungan rapat dengan etnis yang lain seperti etnis India dan Cina.
Maka tidak mengherankan beliau merupakan salah seorang tokoh yang turut berusaha mendirikan Kajang Merchants' Club, organisasi yang memperjuangkan kepentingan warga Cina terutama bisnis mereka.
Raja Allang berhasrat pula membiaya pembinaan sebuah mesjid di Kajang .
Tetapi atas anjuran orang Mandailing yang berpengaruh di Kajang, Sheikh Ahmad ,
Raja Allang membina mesjid di Pekan Beranang, tidak di Kajang .
Mesjid itu dinamai Mesjid Raja Allang dan dibina sekitar tahun 1909.
Mesjid Raja Allang telah direnovasi beberapa kali sesuai dengan peningkatan jumlah jamaah.
Walaupun begitu unsur-unsur arkitektur yang lama dilestarikan.
Berpangkal-tolak dari wibawa, pengaruh Raja Allang dan sanjungan warga kepadanya, Inggeris, Pejabat Daerah Kajang menunjuk beliau menjadi Ketua Warga Melayu... dimaknai Mandailing, Melayu, Bumiputra dan yang lain-lainnya.
Sesuai kapasitasnya itu, beliau bertindak sebagai konsultan hal-ehwal warga bumiputra.
Untuk mengenang derma-baktinya Kajang Town Board menamai seruas jalan di pusat kota sebagai Jalan Raja Allang.
Kemudian entah mengapa Jalan Raja Allang menjadi Jalan Tengah.
Pada kira-kira sekitar tahun 1950-an seruas jalan lagi di Jalan Timur, Kajang dinamai Jalan Raja Allang juga.
Pada waktu itu posisi jalan ini agak bersetentangan dengan Jalan Raja Musa yang melalui sisi perkarangan Mesjid Jamek Pekan Kajang kediaman Tauke Low Ti Kok.
Tangan-tangan tertentu dan yang ingin mengesampingkan memori Mandailing menghapuskan nama Raja Allang dan disangkutkan nama Jalan Cempaka Putih yang tidak ada relevansinya sama sekali.
Mujur di Kuala Lumpur terdapat 53000 Jalan Raja Allang yang dulu dikenal sebagai Perkins Road. Perubahan nama kepada Jalan Raja Allang berlaku pada tahun 1950-an sewaktu Kuala Lumpur masih ujud sebagai Wilayah Ke Sultanan Selangor.
Anak Raja Allang, Dato' Raja Muhammad, bergelar Engku Orang Kaya Maha Bijaya Kuala Lumpur memberikan nama ayahandanya menggantikan nama Perkins pada ruas jalan di Kampung Baru, Kuala Lumpur itu.
Beliau diberikan penghormatan itu atas jasa dan baktinya dalam perjuangan mencapai Kemerdekaan Tanah Melay.
Raja Allang bukan saja konsultan hal-ehwal warga bumiputra setempat di Distrik Ulu Langat tetapi juga nara sumber yang terkait warga etnis Mandailing di Semenjung Malaysia Barat. Ahli sejarah alternatif yang banyak menulis naratif ataupun kisah etnis Mandailing pada abad 19,
J.C.Pasqual mewawancarai Raja Allang untuk memperoleh fakta-fakta sejarah untuk merakam Perang Rao/Rawa 1848 yang melibatkan serangan Raja Barayun (Ayah Raja Alang) ke atas Datoh Klana Sendeng di Sg Ujung (Seremban).
Selain menulis mengenai keterlibatan orang Mandailing dalam Perang Rao/Rawa, J C Pasqual merekamkan pula rentetan peristiwa yang berlaku di Selangor menjelang Abdul Samad naik tahta, berdasarkan pengetahuan Raja Allang mengenaimya.
Pasqual berkisah bahwa Sultan Muhammad amat murka sebab Raja Barayun mempunyai hubungan baik dengan Abdul Samad.
Apabila murkanya tidak dihiraukan, baginda mempersiapkan expedisi menggempur Raja Barayun di Recko/Rekoh di tepi Sg Langat. Sejumlah 500 perahu dihimpun di Kajang .
Raja Barayun menggalang 300 kombatan Mandailing untuk mempertahankan Rekoh.
Mereka menebang pohon kayu dan merentangkannya di tengah sungai sebagai kendala. Angkatan musuh yang menghampiri kendala atau rintangan akan diamuki oleh kombatan Mandailing.
Dihadapkan dengan prospek pembantaian berkuah darah di tengah sungai, perahu-perahu tempur mudik lintang-pukang kembali ke Kajang.
Seperkara lagi yang diungkapkan Raja Allang kepada Pasqual pada wawancara yang lain ialah mengenai perkembangan baru dalam politik Selangor abad ke19. Sultan yang bertahta di Selangor, Sultan Muhammad (1826-1857) gering.
Raja Barayun,
Raja Berkat Rhio aka Tuanku Panglima Raja dan Abdul Samad mendatangi istana dan menghadap Sultan yang gering di pembaringannya.
Raja Brayun dan Raja Berkat Rhio minum "ayer sumpah" di situ dan menobatkan Abdul Samad sebagai Sultan Selangor.
Baginda sebenarnya menantu dan keponakan (anak saudara/nephew) mantan Sultan Muhammad.
Raja Mahmud , putra dan bakal pegganti ayahandanya beserta pengikut-pengikutnya tidak angkat suara memprotes tindakan Raja Brayun.
Namora Mandailing itu merupakan sosok yang amat kuasa dan berwibawa di Selangor pada waktu itu dan beliau berdiri kompak dan teguh di belakang calonnya .
Dengan demikian keturunan Sultan Abdul Samad terus menjadi Sultan di Negeri Selangor hingga dewasa ini..
Walaupun Raja Allang telah berbakti yang banyak kepada Daerah Ulu Langat, khususnya di Kajang dan Beranang ,
beliau menetapkan pindah ke Kuala Lumpur dan membina kediamannya di kawasan yang ditinggali kebayakan elit Mandailing seperti Batu Road (kini Jln Tuanku Abdul Rahman) dan Chow Kit Road.
Beliau membinanya di suatu situs di Jln Raja Laut dan beralamat No 13 Jln Raja Laut (kini Jln Ipoh Kecil).
8[Pada tahun 1926 Sutan Mangatas yang berkeluarga dengan Sutan Puasa mendirikan bagas di Chow Kit Road.]
Gedung kediaman Raja Allang beberapa tahun kemudian dibongkar dan sirna.
Situs kediaman beliau dijadikan Parkiran Kereta.
Cucu-cucu almarhun Raja Allang masih ingat akan situsnya dan dapat mengidentifikasinya.
Mereka pernah tinggal sebumbung bersama-sama almarhum dalam suatu keluarga besar ditempat itu.
Kini yang terus terpahat dalam ingatan hanya momen-momen bahagia dan manis hidup?.
Raja Allang tutup usia di Kuala Lumpur pada tanggal 11 Desember 1927 dan disamadikan di Perkuburan Islam Jalan Ampang di Kuala Lumpur dan tidak di Perkuburan Islam Batu 14,
Kajang tempat peristirahatan ibundanya,
Nyonya Cantik.
Pusara Namora Mandailing yang paling berkuasa, berwibawa dan disegani di Selangor pada pertengah
No comments:
Post a Comment